Rekan-rekan muda pencinta Kristus yang sedang mencari jalan hidup, selamat berjumpa kembali. Prompang Serikat Jesus kembali menyapa teman-teman setelah sempat absen beberapa lama. Kami ingin memulai menceritakan kisah Ignatius dari Loyola, pendiri Serikat Jesus untuk teman-teman sekalian. Semoga kisahnya menjadi inspirasi dan membawa semangat bagi teman-teman untuk semakin mantap mengikuti Kristus. Tentu saja, kami juga mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Percetakan Kanisius yang bukunya boleh kami 'bajak' untuk dibagikan kepada para pembaca.
Pada bagian pertama ini, kami ingin mengambil bab pertama dari buku Lahir Untuk Berjuang karangan Albert Jou S.J. Pada bab pertama yang berjudul Rumah Para Ksatria, diceritakan periode kehidupan Ignatisu pada tahun 1491-1506.
Ignatius terlahir sebagai orang Bask. Orang Bask merupakan bangsa Spanyol (yang saat ini sedang masuk 16 besar Piala Dunia 2010). Orang Bask memiliki pusat yang diberi nama lembah Iraurgi yang terletak 50 kilometer dari San Sebastian di sebelah Utara Spanyol. Lembah ini amat indah, diselimuti salju di musim dingin dan hijau dedaunan di musim yang lain.
Bangsa Bask memiliki keunikan. Mereka adalah orang-orang yang kuat dan terhormat, pemberani, suka berpetualang, gemar menyanyi, menari, dan olah raga yang sulit. Mereka adalah pekerja keras dan bebas merdeka, cepat dalam memperjuangkan hak-hak mereka, dengan tanggung jawab yang sama terhadap orang lain. Kebanyakan orang Bask menjadi petani, prajurit, dan pelaut.
Di tengah lembah Iraurgi, berdirilah puri Loyola di tepi sebuah sungai. Puri tersebut memiliki rumah induk yang disebut sebagai 'rumah suci'. Meskipun diberi nama 'rumah suci', ternyata penghuninya dianggap 'tidak suci'. Penghuninya, yaitu keluarga Loyola, adalah keluarga bangsawan yang paling dibenci karena senang berperang. Dua serigala yang merupakan lambang keluarga Loyola menunjukkan keserakahan para penghuninya.
Puri keluarga Loyola adalah rumah tinggal sekaligus benteng militer. Separuh rumah keluarga Loyola bagian bawah bertembok marmer yang kokoh, sedangkan separuh yang atas terbuat dari batu bata coklat kemerah-merahan. Keempat sudut puri memiliki meriam untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Puri ini dikelilingi oleh pohon kastanya dan pohon-pohon apel.
Pada tahun 1491, di puri Loyola lahirlah seorang anak bernama Inigo yang kita kenal sebagai St. Ignatius Loyola. Inigo memili 7 kakak laki-laki dan 5 perempuan. Karena ibunya tidak begitu sehat, Inigo diasuh oleh perawat tetangganya. Ibunya yang bernama Dona Marina meninggal saat Inigo masih berusia 5 atau 6 tahun. Posisi Dona Marina diambil alih oleh Magdalena, istri dari Martin yang menjadi pewaris puri Loyola. Magdalena pernah menjadi pembantu ratu Isabella.
Ketika masih kecil, Ignatius banyak mendengarkan cerita tentang leluhurnya. Sesudah berdoa rosario dan berdoa malam, Pangeran Loyola yang bernama Don Beltran akan mengisahkan cerita tentang orang-orang yang baru saja mereka doakan.
Inigo mendengan cerita tentang kakeknya yang karena suatu pertengkaran harus dihukum dengan cara dikirim ke sebelah selatan Spanyol untuk berperang melawan bangsa Moors. Ketika telah kembali, dijumpainya sebagian besar puri tempat tinggalnya hancur. Dia diizinkan membangunnya kembali tetapi hanya dengan batu bata.
Cerita yang mungkin paling disukai Ignatius adalah cerita tentang 7 bersaudara Loyola. Diceritakan bahwa 150 tahun yang lalu, dalam suatu pertempuran, Pangeran Loyola dan saudara-saudaranya berhasil mengalahkan musuh-musuh raja yang jauh lebih besar jumlahnya. Sebagai hadiah, masing-masing ketujuh bersaudara diperbolehkan menambahkan 7 garis lambang kepangkatan pada jaket militer mereka.
Ada pula cerita menarik tentang hari-hari ketika kakak-kakak laki-lakinya pulang kembali dari aksi militer mereka. Sebagai contoh adalah kembalinya kakak sulungnya dari pelayaran ke Amerika. Kapal yang ditumpanginya adalah bagian armada Columbus. Empat saudara laki-lakinya pergi berperang di bawah komando para jenderal yang terkenal. Mereka kembali dengan membawa berbagai hadiah untuk adik-adiknya dan mengisahkan cerita-cerita tentang tempat-tempat dan orang-orang yang telah mereka lihat serta pertempuran mereka.
Tetapi ada waktu-waktu sedih seperti ketika empat saudaranya pergi berperang dan tidak pernah kembali lagi.
Ayah Inigo menyerahkan Inigo kepada bimbingan seorang imam yang memberikan kepadanya pendidikan dasar. Jika pelajaran telah selesai, Ignasius berlari-lari bermain di padang rumput, memanjat pohon, memetik apel, atau mencari sarang burung.
Inigo menemani ayahnya mengunjungi sanak saudara dan tanah pertanian serta peternakan domba milik keluarga. Dengan bepergian dan melihat sendiri banyak hal, ia belajar banyak tentang kehidupan nyata. Ia juga belajar menyanyi dan menari.
Inigo tumbuh dewasa, tetapi tinggi badannya tidak seperti yang diharapkan ayahnya. Pada usia 15 tahun, ia dianggap terlalu pendek. Meskipun amat sehat, ia tidak pernah tertarik untuk menjadi tentara. Mungkin itulah sebabnya ayah Inigo mendorongnya untuk menjadi imam seperti kakaknya. Meskipun namanya telah terdaftar sebagai calon imam, ia tidak pernah memakai pakaian klerik atau menunjukkan kecenderungan untuk hidup membiara.
Tiba-tiba datanglah bagi Ignasius suatu kesempatan yang tak terduga. Rupanya baik kalau kesempatan itu tidak dibiarkan berlalu. Lagipula suatu generasi baru (anak-anak Martinus dan Magdalena) juga tinggal di puri. Cepat atau lambat Ignasius harus pergi.
(bersambung)
Sumber: Lahir Untuk Berjuang. Penulis: Albert Jou S.J. Hak Cipta: Kanisius 1991
Tampilkan postingan dengan label Ignasiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ignasiana. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Juni 2010
Jumat, 23 April 2010
Tuhan Telah Siap. Siapkah kita?
Kawan-kawan, setelah cukup lama menghilang dari dunia maya, tim Prompang Serikat Jesus kembali lagi. Kami akan berusaha secara konsisten memberikan renungan-renungan agar kita dapat bersama-sama semakin menemukan apa kehendak Tuhan bagi diri kita. Kami juga menerima renungan-renungan dari teman-teman sekalian untuk dibagikan di forum ini. Berbagi (ber-sharing) adalah anugerah yang di masa kini semakin sulit kita dapatkan. Mari kita saling berbagi agar orang lain semakin merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka.
Pada tulisan kali ini, kami ingin mengajak teman-teman mendengarkan sharing pengalaman dari seorang Jesuit dari Amerika bernama James Martin, S.J. Dia adalah seorang penulis yang berbakat. Sebelum bergabung dengan Serikat Jesus, dia telah bekerja dalam suatu perusahaan besar dan memperoleh kesuksesan. Namun, semangat untuk mengikuti Kristus begitu membakar hatinya sehingga dia memutuskan hidup dalam Serikat Jesus.
James Martin memiliki sebuah pertanyaan besar yang dimulainya ketika dia ada di novisiat. Apa artinya memiliki 'relasi' dengan Tuhan? Apa yang harus aku lakukan agar dapat berelasi dengan Tuhan? Awalnya, James Martin menduga bahwa dia harus berubah sebelum mendekati Tuhan karena dia merasa tidak layak bertemu Tuhan. Bahkan, untuk berdoa-pun, dia merasa tidak pantas. James Martin bertanya kepada pembimbingnya: apa yang harus aku lakukan sebelum aku berelasi dengan Tuhan? Romo pembimbing menjawab: Tidak Ada yang perlu kamu lakukan karena Tuhan akan menemui dirimu dimanapun kamu berada.
Mendengar jawaban dari Romo pembimbing, James Martin merasa lega. Meskipun Tuhan selalu memanggil kita untuk bertobat dan bertumbuh, dan meskipun kita tidaklah sempurna dan berdosa, Tuhan selalu mencintai kita sebagaimana kita adanya. Seorang Jesuit dari India bernama Anthony de Mello, S.J pernah berkata: kamu tidak perlu berubah untuk membuat Tuhan mau mencintaimu. Dan ini menjadi dasar penting dalam Latihan Rohani St. Ignatius Loyola ketika memasuki minggi pertama: bahwa kita dicintai dalam ketidaksempurnaan kita.
James Martin kemudian mencoba merenungkan Perjanjian Baru. Yesus menyerukan pertobatan kepada orang-orang, mengubah hidup mereka. Namun, ketika orang masih enggan untuk berubah dan bertobat, Yesus tidak ragu-ragu untuk menjalin relasi dengan mereka. Yesus menemui mereka sebagaimana mereka adanya. Dari hidup Yesus, kita bisa melihat bahwa Tuhan menghendaki untuk selalu berelasi dengan kita. Namun, cara Tuhan berelasi dengan kita sangatlah bergantung dari posisi kita dalam hidup.
Seandainya kita amat menghargai persahabatan, maka Tuhan akan menemui diri kita dengan cara ini: melalui persahabatan. James Martin menceritakan tentang seorang temannya yang bersharing bahwa dia memiliki saat-saat yang sulit untuk bersyukur. James Martin bertanya kepadanya: dimana kamu merasa paling sering menemukan Tuhan? Temannya menjawab tanpa ragu: pada anak-anakku!
Tuhan dapat bertemu dengan kita dimana saja. James Martin memiliki seorang teman Jesuit yang melayani di penjara dan memberikan Latihan Rohani kepada para tahanan. Seorang tahanan menceritakan bahwa suatu hari dia hendak memukul temannya, namun tiba-tiba dia merasakan Tuhan memberikan kepadanya 'suatu waktu' untuk mempertimbangkan. Di sinilah Tuhan bertemu dengan umat-Nya di dalam penjara.
Tuhan juga menemui kita dengan cara yang dapat kita pahami, cara yang bermakna bagi kita. Seringkali Tuhan berbicara kepada kita dengan cara yang amat personal, yang amat terkait dengan situasi hidup kita sehingga seringkali sulit untuk menjelaskannya kepada orang lain.
Seorang penulis bernama Gustave Flaubert pernah menulis cerita pendek berjuduk 'Hati yang Sederhana'. Cerita tersebut menceritakan seorang perempuan yang miskin bernama Felicite. Dia bekerja sebagai pembantu di rumah Ny. Aubain yang kejam. Suatu hari, Ny. Aubain memberikan pada Felicite seekor burung kakatua yang berwarna cerah bernama Loulou. Burung kakatua ini adalah satu-satunya hadiah yang pernah diterima Felicite. Lalu datanglah saat yang menyedihkan: Loulou mati. Dalam kesedihan, Felicite membawa Loulou yang sudah mati untuk diawetkan. Felicite meletakkan burung kakatua di atas sebuah lemari besar bersama benda-benda suci yang dia miliki. Setiap pagi ketika Felicite bangun tidur, dia akan memandang Loulou sambil mengingat hari-hari yang telah lewat dan hal-hal kecil dari peristiwa yang tidak penting, tidak dengan kesedihan, namun dengan kedamaian. Setelah majikannya meninggal, Felicite semakin tua dan hidup dalam kesederhanaan dan kesalehan. Akhirnya, pada saat kematiannya, Felicite mendapat penglihatan yang aneh namun indah: ketika Felicite menghembuskan nafas terakhirnya, dia seolah-olah melihat di langit yang terbuka seekor kakatua raksasa yang melayang-layang di atas kepalanya. Tuhan datang kepada kita melalui cara yang dapat kita pahami.
James Martin pernah bertugas di Nairobi, Kenya bersama Jesuit Refugee Services (JRS). Dia membantu pengungsi dari Afrika Timur yang tinggal di dalam kota untuk memulai usaha agar dapat menopang hidup mereka. Pada awal tugasnya, James Martin merasakan kesepian karena terpisah dari teman-teman dan keluarganya yang ada di Amerika. Setelah beberapa bulan bekerja keras, James Martin didiagnosa mengalami kelainan darah bernama mononucleosis yang membutuhkan dua bulan masa pemulihan. Itu menjadi masa-masa yang berat. Namun, James Martin bekerja bersama orang-orang yang murah hati. Ada seorang relawan bernama Uta. Dia adalah seorang Lutheran dari Jerman yang sudah berpengalaman bekerja bersama para pengungsi di Asia Selatan. Setelah James Martin sembuh dari sakit, kerja mereka dilanjutkan dan mulai terlihat hasilnya: mereka membantu para pengungsi mendirikan 20 usaha, termasuk penjahit, restaurant, toko roti, dan peternakan ayam. James Martin dan Uta membuat toko kecil yang menjual kerajinan tangan para pengungsi.
Pengalaman James Martin adalah pengalaman yang menakjubkan. Dari pengalaman frustrasi karena sakit dan kesepian, James Martin masuk ke dalam pengalaman bekerja bersama para pengungsi dan menyadari bahwa ini adalah saat membahagiakan dan membebaskan yang pernah dia rasakan. Ada banyak kesulitan, namun ada banyak kebahagiaan yang ditemukan.
Suatu hari, dia berjalan pulang dari toko souvenir. Dia melewati jalan yang cukup panjang dari lingkungan yang kumuh, naik menuju bukit, lalu turun melewati pepohonan, bunga lili, dan rerumputan serta ladang jagung. Sembari berjalan, James Martin melewati orang-orang yang sedang bekerja di ladang mereka. Mereka memanggilnya ketika dia lewat. Burung-burung berwarna cerah bernyanyi dengan riang. Di dasar lembah ada sungai kecil, dan James Martin menyeberangi jembatan yang ada di atasnya. Ketika dia telah sampai di sisi lain dari bukit, dia berbalik dan melihat matahari menyinari jalan, sungai, orang-orang, pohon, bunga, dan rerumputan. Di sanalah, James Martin dipenuhi oleh kebahagiaan. Dia merasakan kepenuhan setelah mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan. Itu menjadi pengalaman yang sungguh mengejutkan. Di sana Tuhan berbicara kepadanya dimana dia berada dan menawarkan apa yang James Martin butuhkan. Memang sulit untuk menggambarkan secara utuh perasaan tersebut. Namun, itu suatu pengalaman personal yang bermakna yang telah mengubah hidup James Martin.
Tuhan berbicara kepada kita dengan cara yang dapat kita pahami. Tuhan berbicara kepada Ignatius dari Loyola ketika dia sedang dalam masa pemulihan setelah terluka parah dalam perang. Tuhan berbicara kepada James Martin secara khusus di Nairobi melalui pemandangan di desa kecil tersebut. Tuhan berbicara kepada kita setiap waktu, tidak peduli betapa membingungkan hidup kita. Kita tidak perlu membuat hidup yang sempurna agar dapat mengalami Tuhan. Di dalam Kitab Suci, Yesus bertemu dengan orang-orang ketika mereka sedang bekerja: Petrus sedang memperbaiki jala di tepi pantai, Matius yang duduk di kantor pemungut cukai. Yesus juga menjumpai orang-orang yang sungguh menderita: perempuan yang berzinah yang akan dirajam, perempuan yang sakit bertahun-tahun, laki-laki yang kerasukan. Dalam berbagai situasi tersebut, Tuhan berkata: Aku siap untuk bertemu denganmu apabila kamu siap untuk menemui-Ku.
Jika Tuhan menemuimu di mana kamu berada, maka di mana kamu berada adalah tempat untuk bertemu dengan Tuhan. Kita tidak perlu menunggu sampai hidup kita tenang atau kita memiliki rumah yang bagus, atau kita sembuh dari sakit, atau kita telah menjadi lebih religius, atau kita telah berdoa lebih baik. Kita tidak perlu menunggu karena Tuhan telah siap saat ini juga.
(disarikan dari America, 8 Maret 2010)
Pada tulisan kali ini, kami ingin mengajak teman-teman mendengarkan sharing pengalaman dari seorang Jesuit dari Amerika bernama James Martin, S.J. Dia adalah seorang penulis yang berbakat. Sebelum bergabung dengan Serikat Jesus, dia telah bekerja dalam suatu perusahaan besar dan memperoleh kesuksesan. Namun, semangat untuk mengikuti Kristus begitu membakar hatinya sehingga dia memutuskan hidup dalam Serikat Jesus.
James Martin memiliki sebuah pertanyaan besar yang dimulainya ketika dia ada di novisiat. Apa artinya memiliki 'relasi' dengan Tuhan? Apa yang harus aku lakukan agar dapat berelasi dengan Tuhan? Awalnya, James Martin menduga bahwa dia harus berubah sebelum mendekati Tuhan karena dia merasa tidak layak bertemu Tuhan. Bahkan, untuk berdoa-pun, dia merasa tidak pantas. James Martin bertanya kepada pembimbingnya: apa yang harus aku lakukan sebelum aku berelasi dengan Tuhan? Romo pembimbing menjawab: Tidak Ada yang perlu kamu lakukan karena Tuhan akan menemui dirimu dimanapun kamu berada.
Mendengar jawaban dari Romo pembimbing, James Martin merasa lega. Meskipun Tuhan selalu memanggil kita untuk bertobat dan bertumbuh, dan meskipun kita tidaklah sempurna dan berdosa, Tuhan selalu mencintai kita sebagaimana kita adanya. Seorang Jesuit dari India bernama Anthony de Mello, S.J pernah berkata: kamu tidak perlu berubah untuk membuat Tuhan mau mencintaimu. Dan ini menjadi dasar penting dalam Latihan Rohani St. Ignatius Loyola ketika memasuki minggi pertama: bahwa kita dicintai dalam ketidaksempurnaan kita.
James Martin kemudian mencoba merenungkan Perjanjian Baru. Yesus menyerukan pertobatan kepada orang-orang, mengubah hidup mereka. Namun, ketika orang masih enggan untuk berubah dan bertobat, Yesus tidak ragu-ragu untuk menjalin relasi dengan mereka. Yesus menemui mereka sebagaimana mereka adanya. Dari hidup Yesus, kita bisa melihat bahwa Tuhan menghendaki untuk selalu berelasi dengan kita. Namun, cara Tuhan berelasi dengan kita sangatlah bergantung dari posisi kita dalam hidup.
Seandainya kita amat menghargai persahabatan, maka Tuhan akan menemui diri kita dengan cara ini: melalui persahabatan. James Martin menceritakan tentang seorang temannya yang bersharing bahwa dia memiliki saat-saat yang sulit untuk bersyukur. James Martin bertanya kepadanya: dimana kamu merasa paling sering menemukan Tuhan? Temannya menjawab tanpa ragu: pada anak-anakku!
Tuhan dapat bertemu dengan kita dimana saja. James Martin memiliki seorang teman Jesuit yang melayani di penjara dan memberikan Latihan Rohani kepada para tahanan. Seorang tahanan menceritakan bahwa suatu hari dia hendak memukul temannya, namun tiba-tiba dia merasakan Tuhan memberikan kepadanya 'suatu waktu' untuk mempertimbangkan. Di sinilah Tuhan bertemu dengan umat-Nya di dalam penjara.
Tuhan juga menemui kita dengan cara yang dapat kita pahami, cara yang bermakna bagi kita. Seringkali Tuhan berbicara kepada kita dengan cara yang amat personal, yang amat terkait dengan situasi hidup kita sehingga seringkali sulit untuk menjelaskannya kepada orang lain.
Seorang penulis bernama Gustave Flaubert pernah menulis cerita pendek berjuduk 'Hati yang Sederhana'. Cerita tersebut menceritakan seorang perempuan yang miskin bernama Felicite. Dia bekerja sebagai pembantu di rumah Ny. Aubain yang kejam. Suatu hari, Ny. Aubain memberikan pada Felicite seekor burung kakatua yang berwarna cerah bernama Loulou. Burung kakatua ini adalah satu-satunya hadiah yang pernah diterima Felicite. Lalu datanglah saat yang menyedihkan: Loulou mati. Dalam kesedihan, Felicite membawa Loulou yang sudah mati untuk diawetkan. Felicite meletakkan burung kakatua di atas sebuah lemari besar bersama benda-benda suci yang dia miliki. Setiap pagi ketika Felicite bangun tidur, dia akan memandang Loulou sambil mengingat hari-hari yang telah lewat dan hal-hal kecil dari peristiwa yang tidak penting, tidak dengan kesedihan, namun dengan kedamaian. Setelah majikannya meninggal, Felicite semakin tua dan hidup dalam kesederhanaan dan kesalehan. Akhirnya, pada saat kematiannya, Felicite mendapat penglihatan yang aneh namun indah: ketika Felicite menghembuskan nafas terakhirnya, dia seolah-olah melihat di langit yang terbuka seekor kakatua raksasa yang melayang-layang di atas kepalanya. Tuhan datang kepada kita melalui cara yang dapat kita pahami.
James Martin pernah bertugas di Nairobi, Kenya bersama Jesuit Refugee Services (JRS). Dia membantu pengungsi dari Afrika Timur yang tinggal di dalam kota untuk memulai usaha agar dapat menopang hidup mereka. Pada awal tugasnya, James Martin merasakan kesepian karena terpisah dari teman-teman dan keluarganya yang ada di Amerika. Setelah beberapa bulan bekerja keras, James Martin didiagnosa mengalami kelainan darah bernama mononucleosis yang membutuhkan dua bulan masa pemulihan. Itu menjadi masa-masa yang berat. Namun, James Martin bekerja bersama orang-orang yang murah hati. Ada seorang relawan bernama Uta. Dia adalah seorang Lutheran dari Jerman yang sudah berpengalaman bekerja bersama para pengungsi di Asia Selatan. Setelah James Martin sembuh dari sakit, kerja mereka dilanjutkan dan mulai terlihat hasilnya: mereka membantu para pengungsi mendirikan 20 usaha, termasuk penjahit, restaurant, toko roti, dan peternakan ayam. James Martin dan Uta membuat toko kecil yang menjual kerajinan tangan para pengungsi.
Pengalaman James Martin adalah pengalaman yang menakjubkan. Dari pengalaman frustrasi karena sakit dan kesepian, James Martin masuk ke dalam pengalaman bekerja bersama para pengungsi dan menyadari bahwa ini adalah saat membahagiakan dan membebaskan yang pernah dia rasakan. Ada banyak kesulitan, namun ada banyak kebahagiaan yang ditemukan.
Suatu hari, dia berjalan pulang dari toko souvenir. Dia melewati jalan yang cukup panjang dari lingkungan yang kumuh, naik menuju bukit, lalu turun melewati pepohonan, bunga lili, dan rerumputan serta ladang jagung. Sembari berjalan, James Martin melewati orang-orang yang sedang bekerja di ladang mereka. Mereka memanggilnya ketika dia lewat. Burung-burung berwarna cerah bernyanyi dengan riang. Di dasar lembah ada sungai kecil, dan James Martin menyeberangi jembatan yang ada di atasnya. Ketika dia telah sampai di sisi lain dari bukit, dia berbalik dan melihat matahari menyinari jalan, sungai, orang-orang, pohon, bunga, dan rerumputan. Di sanalah, James Martin dipenuhi oleh kebahagiaan. Dia merasakan kepenuhan setelah mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan. Itu menjadi pengalaman yang sungguh mengejutkan. Di sana Tuhan berbicara kepadanya dimana dia berada dan menawarkan apa yang James Martin butuhkan. Memang sulit untuk menggambarkan secara utuh perasaan tersebut. Namun, itu suatu pengalaman personal yang bermakna yang telah mengubah hidup James Martin.
Tuhan berbicara kepada kita dengan cara yang dapat kita pahami. Tuhan berbicara kepada Ignatius dari Loyola ketika dia sedang dalam masa pemulihan setelah terluka parah dalam perang. Tuhan berbicara kepada James Martin secara khusus di Nairobi melalui pemandangan di desa kecil tersebut. Tuhan berbicara kepada kita setiap waktu, tidak peduli betapa membingungkan hidup kita. Kita tidak perlu membuat hidup yang sempurna agar dapat mengalami Tuhan. Di dalam Kitab Suci, Yesus bertemu dengan orang-orang ketika mereka sedang bekerja: Petrus sedang memperbaiki jala di tepi pantai, Matius yang duduk di kantor pemungut cukai. Yesus juga menjumpai orang-orang yang sungguh menderita: perempuan yang berzinah yang akan dirajam, perempuan yang sakit bertahun-tahun, laki-laki yang kerasukan. Dalam berbagai situasi tersebut, Tuhan berkata: Aku siap untuk bertemu denganmu apabila kamu siap untuk menemui-Ku.
Jika Tuhan menemuimu di mana kamu berada, maka di mana kamu berada adalah tempat untuk bertemu dengan Tuhan. Kita tidak perlu menunggu sampai hidup kita tenang atau kita memiliki rumah yang bagus, atau kita sembuh dari sakit, atau kita telah menjadi lebih religius, atau kita telah berdoa lebih baik. Kita tidak perlu menunggu karena Tuhan telah siap saat ini juga.
(disarikan dari America, 8 Maret 2010)
Kamis, 11 Maret 2010
Tunas Hijau di tengah Padang Gurun
Tunas Hijau di tengah Padang GurunUntuk menemani perjalanan kita dalam masa pra-paskah ini, Margaret Silf memberikan sebuah refleksi yang berguna bagi hidup kita.
Masa pra-paskah adalah waktu untuk mengingat bahwa kita semua hidup di padang gurun. Hidup di padang gurun berarti kita mengambil resiko mengikuti Yesus yang dicobai di padang gurun. Padang gurun dapat hadir dalam berbagai bentuk: entah secara geografis ataupun spiritual, terasa panas ataupun dingin, diterangi oleh cahaya yang menyilaukan ataupun diliputi kegelapan yang pekat. Padang gurun tidak banyak memberi pilihan kepada kita. Padang gurun memanggil kita untuk masuk lebih dalam, berziarah memasuki inti diri kita.
Padang gurun merupakan tempat yang sungguh gersang dan keras, tempat di mana kita tak perlu mengimpikan sebuah pertemuan. Namun, di sela-sela batu-batu, masih ditemukan bunga-bunga liar yang menjadi tanda kehidupan. Pra-Paskah menjadi sebuah undangan untuk membiarkan pertumbuhan yang baru dimulai dalam hati kita. Benih yang kecil tidak hanya menjadi janji bagi masa depan, namun sesuatu yang dapat kita raih saat ini apabila kita dapat mengenali dan merayakannya.
Bayangkanlah dirimu berdiri di sebuah persimpangan, tepat di tengah persimpangan jalan. Yang dapat kau lihat hanyalah horison tanpa batas, kesepian yang mencekam, kekeringan. Beranikah kita bergerak maju, masuk ke dalam jiwa dari tempat yang terlihat gersang tersebut? Beranikah kita masuk ke dalam jiwa kita, melihat benih apa yang sudah menunggu di sana untuk tumbuh dan berbuah pada waktunya?
Margaret Silf membagikan pengalamannya berada dalam sebuah kota yang diliputi salju, sebuah kota yang terlihat murung dan gelap. Namun, di dalam kota tersebut, Margaret Silf menemukan kehidupan dalam kelompok oikumene yang memiliki satu hasrat: mengikuti Yesus kemanapun Dia menuntun, semakin dekat pada Tuhan dan sesama. Ada kehangatan dan kedekatan.
Di tempat itu, Margaret Silf juga menemukan cerita pengalaman tentang rekonsiliasi penduduk asli Indian yang telah diperlakukan dengan kejam oleh orang kulit putih. Organisasi gereja dengan karya misinya memiliki tanggungjawab dalam mencerabut keberakaran penduduk asli dari keluarga mereka. Kedua belah pihak merefleksikan pengalaman mereka dan mempertemukan pengalaman tersebut. Penyembuhan terjadi ketika pengalaman yang menyakitkan tersebut saling bertemu, di mana kebenaran diungkapkan dan kejujuran didengarkan. Setiap pribadi diajak kembali ke dalam dasar sejati dari diri dimana Roh Tuhan tinggal di dalamnya, sekaligus menghormati Roh yang ada dalam diri sesama.
Dari kegersangan ternyata tersimpan potensi pertumbuhan baru yang radikal. Jika kita mampu diam dan hening sembari memohon rahmat Tuhan untuk meletakkan akar yang lebih dalam, Tuhan tidak akan berhenti mengejutkan kita dengan berbagai kemungkinan baru. Kita semua diajak untuk kembali ke dalam hati, kembali ke dalam Roh sejati. Kita semua diajak mengakui kegersangan sekaligus menerima undangan Tuhan untuk mencium harumnya kembang.
(Margaret Silf adalah seorang awam yang mendalami spiritualitas Ignasian. Disarikan dari America 22 Februari 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)



